Patterned Text Generator at TextSpace.net


ya...ini adalah sisi gw yang mungkin...jarang yang diketahui oleh orang-orang.
Mulai dari kemaniakan gw terhadap dunia tulis-menulis.
Pemikiran-pemikiran gw...
Kesukaan-kesukaan gw akan sesuatu...
Semuanya tertuang di sini

Maka di sini akan ada dongeng-dongeng *sori kl banyak yg belum berending*
ada puisi-puisi gw...
ada celoteh gw...

just read it...
and you will see...the other side of me...

Kamis, 24 Maret 2011

Mimpi

Setiap orang pasti pernah bermimpi. Entah mimpi yang baik...ataupun mimpi yang buruk. Terkadang seseorang pun selalu hidup dalam dunia mimpinya...
Bagi gw, mimpi itu penting!!!
Karna dengan mimpi gw akan selalu punya alasan untuk melakukan segala sesuatunya lebih baik setiap harinya. Gw bekerja...karena gw punya mimpi bisa mencukupi segala kebutuhan keluarga gw. Gw selalu berusaha menjadi ibu yg baik...karna gw punya mimpi anak-anak gw kelak akan menjadi manusia yang baik yang salah satunya akan berhasil jika dididik baik oleh orang tuanya.

Tapi....jika kurang hati-hati, segala mimpi positif kamu justru akan membuat mu jadi melakukan hal-hal yang buruk. Kamu punya mimpi. Punya duit banyak. Bisa jalan-jalan ke tempat yang kamu suka. Tapi akhirnya, kamu lebih memilih jalan pintas yang tidak baik untuk memenuhi segala impian kamu.
Dan jangan sampai mimpimu membuat mu menjadi seseorang yang tidak berpijak pada hal yang nyata. You just can't live in a dream.

Jadi....teruslah bermimpi. Karna apabila kita tidak pernah bermimpi, kita tidak akan pernah bisa maju. Hanya saja....jadikanlah mimpi mu itu menjadi suatu alasan untuk selalu berbuat yang terbaik setiap harinya.

Sabtu, 12 Maret 2011

Serpihan Masa Lalu (part 5)


Baju, toiletries, charger…DONE! Novel dan iPod sudah berada di dalam tas. Fiuh….akhirnya selesai juga packingnya. Gue merebahkan diri ke atas kasur. Sementara Reza sedang asyik dengan Macnya.
“Huff…ngantuknya!”
Reza menatap gue. “Pesawat jam berapa sih?”
Gue menarik selimut. “Jam tujuh take off.”
Reza mematikan Macnya dan ikutan menyusup ke bawah selimut. “Aku masih ada sim card Singapur yang masih aktif. Pake saja. Ada di laci nakas sebelahmu.”
Gue meraih laci nakas lalu mengambil kotak bening berisi sim card.
Reza mematikan lampu. “Jangan lupa besok bangunin aku ya. Biar aku yang anter kamu ke bandara.”
Gue mengangguk. “Udah kupasang kok alarmnya.”
Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus Reza.
Gue menghela napas.
Selalu begitu.
Reza memang perhatian. Tapi perhatian dengan caranya sendiri. Datar. Tanpa gejolak. Dan sejujurnya…..semua itu sangat membosankan!!
Gue ngerti bahwa percuma saja mengharapkan spontanitas dari Reza. Reza is the most organize people I’ve ever met. Tidur dan bangun tepat waktu. Melakukan segala rutinitas sesuai jadwal. Dan…sesungguhnya ini yang bikin gue salut sama dia, selalu pulang kantor tepat waktu dan menghabiskan sisa harinya untuk total bersama keluarga. Dia memang tipe family man. Okey….memang terkadang dia melewatkan malam bersama teman-temannya, hang out di suatu tempat, tapi itupun jarang sekali dilakukan.
Gue masih ingat dulu alasan gue kenapa dulu mau menikah dengannya. Bahwa gue yakin dia bisa memberikan rasa aman dan settle buat gue. Tapi nyatanya itu semua malah jadi bumerang bagi gue.
            I miss the adrenalin…
            Dan setelah sepuluh tahun….gue bener-bener sakaw dengan itu!!
            Gue hanya berharap….jalan-jalan gue kali ini bisa memenuhi ke-sakaw-an itu, sehingga ketika gue balik nanti, gue bisa akan lebih tenang menghadapi segala rutinitas hidup termasuk ketidakspontanan Reza.
            Karena sesungguhnya gue juga tidak mau melepaskan pernikahan ini…
            Tapi…sungguh…gue butuh pegangan untuk tetap hidup dan waras dalam pernikahan ini.
            Gue menguap. Rasa kantuk yang amat sangat mulai menyerang. Dan ga sampai semenit gue sudah terlelap…



            Gue sedang berdiri di tengah-tengah orang yang sedang bergegas mengejar waktu. Di tengah-tengah stasiun Dhoby Gaut, gue berdiri, sambil memandangi MRT map di iPhone. Bingung. Hendak jalan ke mana dulu.
            Ini sudah jam dua belas siang waktu Singapur. Perut gue lapar minta diisi. Gue tergoda dengan setangkup es potong di pinggir Orchard. Atau di emperan Boat Quay. Jadi….gue terjebak di pilihan antara Orchard dan Boat Quay.
            “Why don’t we just take the MRT to Boat Quay? I love spending time there..” ga sengaja gue denger percakapan dua orang ekspat yang lewat di samping gue.
            Hmmm….Boat Quay?? Keping-keping suasana Boat Quay sudah terbayang di benak gue. Jadi destinasi selanjutnya….????
            Gue segera menuju jalur North South Line. Menunggu kereta menuju Marina Bay. Masih dua menit lagi. Gue menyalakan iPod gue. Ada Heaven Knowsnya Rick Price mengalun lembut. Sekejap gue terkesiap.
            Heaven Knows??
            Gue merasa tidak memasukkan lagu tersebut ke playlist iPod gue.
            Tapi…
            Gue teringat undangan merah marun.
            Gue teringat lima belas tahun yang lalu.
            Gue…mendadak gue jadi deg-degan.
            Dan rasa rindu itu….mendadak menyelinap.
            Lamunan gue terhenti ketika suara rebut kereta datang.
            Orang bergegas berkerumun di dekat pintu kereta.

Cepat-cepat gue masuk ke dalam begitu orang-orang dari dalam kereta sudah tidak ada lagi yang hendak keluar.
            Gue duduk.
            Kereta berjalan.
            Tepat sebelum gue memasuki kegelapan terowongan kereta….gue melihat sebuah sosok.
            Sekali lagi gue cuma bisa terkesiap.
            Terpaku.
            Kelu.
            Sepertinya…gue melihat sosok yang amat sangat gue kenal.
            Sosok itu….
            ….adalah seorang Weis!


 *****


            Tau film Serendipity?? Itu adalah film favorit gue. Film yang berkisah tentang takdir. Selalu ada alasan untuk sebuah kejadian. Dan mungkin, itu pula yang akan gue dapat sehubungan dengan kejadian yang bener-bener biking gue shock siang ini.
            Duduk di tepi Singapore River sambil melihat manusia lalu-lalang. Gue belum empat jam menghirup udara Singapur. But I already get too much…  Es potong rasa coklat sudah beberapa menit yang lalu masuk ke dalam lambung gue. Tapi mengapa dinginnya es potong itu tidak juga mendinginkan hati dan pikiran gue?
            Duh!!! Berhentilah bermimpi! Berhentilah bermain-main dengan pikiran-pikiran gila itu. Karena, meskipun belum tentu yang terlihat tadi adalah dirinya, gue sudah ga punya hak lagi untuk bermain-main dengan pikiran romantis gue akan dirinya dengan gue. Gue sudah menikah. Dia sebentar lagi menikah. End of the story, Everybody is happy. Dan itu yang sudah selayaknya terjadi.
            Gue meneguk air mineral yang tinggal setengah botol. Tak jauh dari tempat gue duduk, sepasang muda-mudi sedang memadu kasih. Dan di sisi yang berbeda segerombolan backpackers sedang asyik melepas lelah. Gue berusaha mengalihkan pikiran-pikiran gila gue dengan berusaha menikmati dan mengamati apa yang ada di sekitar gue.
            Tapi ternyata itu semua tidak berhasil.
            Dan lagi-lagi…gue memunguti serpihan-serpihan masa lalu gue dan menyusunnya keping demi keping…

Rabu, 09 Maret 2011

when a girl fall in love....


Dikala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah ku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

Biar awanpun gelisah
Daun daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...

Biar awanpun gelisah
Daun daun jatuh berguguran,,
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku Oh...

Tuhan jalinkanlah cinta
Bersama selamanya...

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya selamanya...


Lagu ini....gw suka banget. Muncul pertama yang nyanyiin Yana Julio, pas gw baru jadi anak kuliahan. Entah kenapa kata-katanya mengena banget. Waktu itu...gw lagi naksir seseorang. Cakep. Keren. Jago basket. Jago main musik. Huhuhuhu.... Sayangnya dia ga tau kalo gw ada dan gw...tentu aja ga berani 'unjuk gigi' ke dia.
Yup..rata-rata cewe #entah kalo cewe-cewe abege sekarang ya...# seperti itu. Suka sama seorang cowo. Tapi cuma bisa dipendam di hati. Bagaimana mungkin? Di budaya kita, cewe nyatain ke cowo tuh masih rada tabu. Bahkan kadang si cowo suka menganggap bagian 'nyatain cinta' adalah kerjaannya cowo. Si cewe tinggal bilang 'iya' apa 'engga'. 
Nah...tapi kalo si cowo nya oon dan ga ngeh kalo si cewe suka gimana dong??
Namanya juga cewe. Kalo dia suka sama cowo pasti dia kasih-kasih sinyal lah. Rajin telpon. Rajin ym an. Rajin sms. Kadar perhatiannya jadi lebih dibanding dulu. Kadang suka nyela abis cowo itu. Ya...cuma itu yang bisa dilakukan. Intinya...dengan cara seperti itu dia pengen bilang...ini..gw ada hati sama elu.
Bersyukur banget kalo si cowo tanggap dan.....membalas rasa yang si cewe punya. Tinggal menunggu waktu yang pas buat jadian...dan..resmi deh jadi sepasang kekasih. Teorinya sih gitu.
Tapi, kalo si cowo ga ngeh juga, ato ngeh tapi dia sendiri ga yakin dengan perasaan si cewe...gimana dong??
Hahaha.....untungnya gw belum pernah kejadian sama cowo yang kayak gini. Tapi beberapa temen gw...mereka pernah ngalamin. Kalo udah gitu, mereka suka minta bantuan orang ketiga buat mendekatkan mereka berdua.
Dan..gue cukup sering jadi orang ketiga itu.... 

So...buat para cowo nih... plissss deeehhh....sedikit membuka kepekaan diri, ya... Siapa tau sebenernya cewe yang sering jalan sama kamu, yang sering curhat sama kamu, yang sering ym an sama kamu....sebenernya punya sesuatu rasa buat kamu. Kasian kan...kalo mereka udah susah payah kasih sinyal tapi kalian ga peka juga..

Wkwkwkwkw.......yukkk...sekarang kita dengerin lagunya sama-sama.....

To be something...penting gitu??

Everybody want to be something. At their school, at their community...they always want to be something in their territory, becoming a 'Queen Bee', having the power...

Yup...seperti di novel-novel, di film-film seri, di sinetron-sinetron, bahkan di dunia nyata sekali pun. Di sekolah, di kampus, di lingkungan wali murid....setiap orang ingin menjadi sesuatu. Sebuah cerita klise namun nyata dan banyak terjadi. Seseorang yang menjadi mayoritas di suatu kelompok biasanya ingin berkuasa. Punya pengikut yang loyal, ditakuti dan disegani oleh anggota kelompok lainnya. It seems they enjoy to be untouchable.
Seperti Blair Waldorf atau Serena Van Der Woodsen dalam Gossip Girl. Mereka kaya, punya uang, kekuasaan, punya tampang......but not sure they have excellent brain...
Di SMA gw dulu untungnya ga ada yang seperti ini. Tapi di beberapa sekolah temen gw yang lain...yang model-model kayak gini banyak banget. Kaum 'kemilau nan sombong dan semena-mena' itu benar-benar ada dan menindas. 

To be something...semata-mata adalah bukti eksistensi diri. Bahwa mereka ada. Dan setiap orang harus menganggap penting keberadaanya. The saddest thing is.....they actually nothing. Bahwa sebenarnya ga ada yang bisa dibanggakan dari keberadaannya itu.  

IMHO, mestikah membuktikan eksistensi diri harus dengan cara seperti itu?? Harus dengan menjadikan orang lain sebagai korban?? Don't you get it...being minority is really hard...so much harder than you ever thought?? Karena sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan demi membuktikan eksistensi diri. Berprestasi. Atau jadilah seseorang yang menyenangkan. Loveable. Itu...cukup!!\
Lagipula.....gw pikir... that evil Queen bee....sebenarnya adalah seseorang yang sakaw akan perhatian. Karena mereka tidak mendapatkannya dari orang-orang yang seharusnya menyayangi dan memperhatikan mereka....

Selasa, 08 Maret 2011

Heaven Knows



This is officially has became my broken heart theme song. Ya...rasanya dulu...sekitar 17 tahun yang lalu, sakiiittt banget kalo dengerin lagu ini. Lagu ini selalu mengingatkan gw pada sosok yang sama. Si "Heaven Knows'. Tapi nyatanya setelah tahun berganti, gw justru denger lagu ini beberapa bulan yang lalu. Bukan di suatu tempat yang romantis...tapi entah...sekarang kalo gw denger lagu ini, gw jadi teringat akan kenangan beberapa bulan yang lalu...

Selasa, 01 Maret 2011

Serpihan Masa Lalu (part 4)


            “Sudah dikirim semuanya kan?”
            Aku mengangguk. Lila – calon istriku – tersenyum. Wajahnya tampak sumringah. “Aku sudah nggak sabar lagi menunggu hari indah itu,” bisiknya di telinga kananku.
            Aku berdehem. Mengambil sebuah majalah otomotif yang tergeletak di meja. Berlagak membaca.
            “Sayang, ada sesuatu yang salah? Sepertinya kamu kurang antusias dengan pembicaraan ini.”
            Aku terpaksa menghentikan kegiatan mebacaku. Tersenyum. “Ga ada yang salah, kok! Aku juga sudah nggak sabar menunggu..ehm…hari H…”
            Lia tersenyum. “Oya, bagaimana dengan trip ke Singapur mu itu? Kapan berangkat? Berapa lama?”
            Aku meletakkan majalah di atas meja. Lalu memandangnya. “Bulan depan. Lima hari di sana. Dari tanggal dua puluh sampai tanggal dua puluh lima. Kenapa? Mau nitip sesuatu?”
            Lia menggeleng. “Cuma pingin kamu cepet pulang dengan selamat aja,” bisiknya manja.
            Aku tersenyum. Aku melirik ke arlojiku. Sudah hampir jam satu. Lunch hari ini mesti segera diakhiri. Satu jam lagi ada meeting dengan bos besar. Dan aku…belum nyiapin apa-apa.
            “Balik, yuk! Aku harus meeting nih,” kataku.
            Lia mengangguk. Aku diturunin di Sutos aja. Ada yang harus kubeli di situ.”
            Aku segera member kode pada si waitress untuk membawakan bill. Setelah membayar lalu kami segera pergi. Menembus panasnya siang hari di Surabaya.


            “Duh..yang mau jadi penganteeen….hari gini masih manyun aja!” suara cempreng Nindy, teman sebelah cubicle membangunkanku dari lamunan siang hariku.
            “Woi…kerja!! Jangan ngintip aja!”
            Nindy terbahak. “Kenapa? Kemarin kena santet ya waktu ketemu sama bos besar? Dari tadi pagi kuperhatiin kamu manyun aja.”
            Aku tersenyum. “Sini, Nin! Ke cubicle ku sini, gih!”
            Ga sampai dua detik Nindy sudah berdiri manis di sebelahku.
            “Ada apaan, sih?” tanyanya ingin tahu.
            Aku menghela napas. Diam sejenak. “Aku dapat firasat kurang enak,” ujarku perlahan.
            Nindy menaikkan alisnya. “Firasat? Firasat kayak gimana?”
            Aku menggeleng. “Entah! Tentang kepergianku besok.”
            “Ke Singapur?” Lalu Nindy terbahak. “Firasat kamu bakalan heboh belanja terus duit mu habis semua. Paling itu. Apalagi?”
            Aku menatapnya kesal. “Ah, kalau itu sih….ga bakalah, lah! Sejak kapan aku kalap belanja. Kalau kamu…iya!”
            Nindy masih terbahak. “Habisnya….kamu pake bilang hal yang aneh-aneh segala. Emang firasat apa sih? Kecelakaan? Mau mati? Kehilangan pacar? Mau ketemu pacar lama?”
            Aku menatapnya. “Ulangi perkataanmu yang terakhir tadi, Nin!”
            Nindy menatapku heran. “Yang mana? Yang mau mati?”
            Aku menatapnya geram. “Bukaaaann!!! Ngapain sih ngomongin mati-mati segala. Ituuuu…yang paling akhir tadi!!!! “
            Nindy terdiam sesaat. Mencoba mengingat-ingat. “Uhhmmm… yang….. Aihhh!!! Ketemu pacar lama??” Entah mengapa volume suaranya jadi mengeras.
            “Ssssssssstt!! Jangan keras-keras, dong! Nanti kalau Si Nenek Gosip itu denger matilah diriku!” kataku sambil melirik ke cubicle seberang, tempat Si Nenek Gosip itu berada.
            Nindy terbahak. “Alina?? Aduuhhh!!!! Tuh…liat…kupingnya lagi disumpel sama earphone. Mana denger dia pembicaraan kita. Jangan lebay deh, Wis!!”
            “Oya? Masa sih? Hmm…amanlah kalau begitu.”
            “Jadi…balik ke firasatmu yang aneh itu, darimana kamu tahu kalau kamu bakalan ketemu pacar lama di Singapur?”
            Aku menggeleng. “Aku belum tau, Nin. Tapi….tadi pagi…perasaan itu datang aja…pas aku berangkat ke sini.”
            “Memangnya….perasaan kayak gimana?”
            Aku menghela napas. Memejamkan mata sejenak. Dan…
            “Tiba-tiba saja aku ingat dia.”
            Nindy melongo mendengar jawabanku. Tapi, sedetik kemudian, ia terbahak. “Buseeett….kamu itu lucu banget sih, Wis! Eh..Wis…kamu itu udah kepala tiga. Masa jalan pikirannya masih kayak anak abege aja. Kalo tiba-tiba keingat mantan sih….wajar saja, lah! Wong dia itu kan pernah jadi seseorang yang istimewa dalam hidup kita. Lah…jadi kalo menurutku sih, ya ga apa-apa lah…kalo tiba-tiba saja kamu ingat dia. Aku juga suka gitu kok! Nah…tapi tetep aja ga pernah ketemuan lagi sama mantan-mantanku.”
            “Serius…itu bukan pertanda, Nin?”
            Nindi tertawa. “Ya bukanlah!!! Ah…hal remeh gitu aja dipikirin. Atau jangan-jangan…kamu masih cinta ya sama dia?”
            Aku terkejut mendengar perkataan Nindy. “Cinta?”
            Nindy menghela napas. “Iya…siapa tahu kamu sebenernya masih sayag sama dia.”
            Aku termenung. Cinta? Sayang? Hmm…masa sih??
            Nindy menepuk pelan bahuku. “Balik dulu ke singgasanaku, ya! Masih ada setumpuk tugas yang belum kuselesaiin. Ga usah mikirin yang aneh-aneh, deh! Lia itu udah baik banget.”
            Aku mengangguk. “Thanks. Nin!”
            “Ur welcome!


            Aku sedang melahal lontong balap sambil sesekali meneguk air es. Fiuuhh!!! Minggu siang di Surabaya yang panas, menikmati lontong balap super pedes bikinan Lia, benar-benar membuat hari Mingguku sempurna. Sementara itu, si koki malah sibuk ngetawain aku yang lagi kepedesan.
            “Pedes ya?? Salah siapa  tadi minta dibanyakin cabenya?”
            Aku masih megap-megap. Entah sudah habis berapa gelas air es yang kuteguk. Tapi pedesnya ga mau ilang-ilang juga.
            “Nih..!”Lia megulurkan air putih hangat. “Baca di majalah, kalau kepedesan lebih baik minum air putih hangat. Biar rasa pedesnya cepat hilang”
            Aku segera meneguk air putih hangat itu. Dan, betul!! Rasa pedasnya berangsur hilang.
            “Waahh…makasih ya, Li!! Sudah ngga berasa pedes lagi.”
            Lia tersenyum.
            “Sebelum ke Singapur kita mesti fitting baju loh, Mas!” katanya mengingatkanku.
            Aku mengangguk. “Sudah beres semua kan persiapannya?”
            Lia mengangguk. “Delapan puluh persen, lah! Kata Mba Dewi, semuanya sudah fix.”
            “Baguslah. Besok kalau si Nindy mau nikah, biar dia pakai EO nya Mba Dewi.”
            Lia menatapku. “Nindy mau nikah? Sama Bagas? Kapan?”
            Aku tertawa. “Sepertinya bulan depan mereka mau lamaran.”
            “Oya?? Wah…ngga nyangka. Kukira…Bagas itu bakalan jadi pelabuhan sementaranya si Nindy.”
            Aku terkekeh. “Ya….jodoh kan di tangan Tuhan, Li. Lagipula Nindy umurnya juga sudah diujung kepala dua. Sudah saatnya dia berpikir serius tentang hidupnya.”
            Lia mengangguk. “Kadang aku cemburu sama Nindy.”
            Aku terkejut. Menatapnya heran. “Kenapa? Aku kan berteman saja sama Nindy.”
            Lia menghela napas. “Entahlah! Aku juga tidak tahu.”
            Aku merengkuh Lia. Dan membelai-belai rambutnya. “Sudahlah! Ngapain cemburu? Toh kita sebentar lagi juga menikah. Aku menikahimu. Kalau aku tidak sayang dan cinta sama kamu, mana mungkin aku mau menikah sama kamu. Iya kan?”
            Lia tersenyum. “Iya ya, Mas! Aku…cuma takut saja kehilangan kamu.”
            “Ah, ga usah dipikirin. Kita jalani saja apa yang ada di genggaman kita. Besok Kamis, bantuin aku packing ya. Hari Jumat aku sudah berangkat.”
            Lia mengangguk. “Mau anterin aku beli sesuatu nggak?” tanyanya.
            “Di mana?”
            “Mau dulu apa nggak?”
            “Jangan ke mal deh…”
            Lia merengut. “Padahal aku pingin ke mal!”
            Aku tertawa. “Iya! Ganti baju dulu sana. Habis itu kita jalan.”
            Lia tersenyum. Lalu segera beranjak ke dalam.
            Aku menghela napas.
            Tiba-tiba saja rasa kangen itu menyelinap. Kangen…dengan….Fey!!

Senin, 28 Februari 2011

Serpihan Masa Lalu (part 3)

Hayo….siapa yang tau apa keuntungan menggunakan internet di jaman sekarang ini???
    Teknologi informasi yang lahir di akhir abad 20 ini memang bagaikan virus yang menyerang umat manusia. Nggak kenal internet, maka nggak gaul. Semuanya demam internet. Terbukti dengan maraknya warnet, diikuti dengan maraknya area hot spot…
Dimana-mana hampir tiap orang – para pekerja maupun mahasiswa – menenteng-nenteng laptopnya, sambil menyeruput sebotol teh atau secangkir kopi, dan betah duduk diam-diam sambil berselancar di dunia maya.
    Internet bagaikan agama baru bagi para manusia.
    Termasuk gue.
    Dan…believe it or not…gue lagi asyik ngubek-ngubek facebook gue…mengklik temen-temennya temen SMA gue…berharap ada setitik informasi yang bisa gue dapet tentang…  siapa lagi kalo bukan WEIS!!
    Untung hubby gue nggak ada di rumah.
    Tapi sekali lagi, setelah sekian lama gue berusaha mencari jungkir balik…gue tetep nggak bisa menemukan jejaknya.
    Ihiks….
    Dengan perasaan kecewa gue mematikan laptop. Ini mungkin semacam peringatan dari Yang Diatas Sana agar gue tidak berusaha….
    Karena gue sudah ada yang punya.
    Gue tidak lagi available.
    Gue adalah seorang wanita bersuami…
    Gue menghela napas. Murung mendadak menyelinap dalam diri gue.
    Phsyco!!
    Dan tanpa gue sadari, air mata ini sudah mengalir jatuh ke pipi…
    Cosmic Girl nya Jamiroquai membahana. Kuraih iPhone ku yang tergeletak di atas nakas. Nomor tak dikenal. Dengan malas-malasan ku jawab.
    “Halo?”
    “Fey? Ini Lupi. Bisa ketemuan ga? Di mana gitu… Atau gue ke rumah elu aja? Ada yang mau gue omongin nih!! Penting!!”
    Gue melirik ke arah jam dinding. Masih jam sepuluh. Sementara gue baru akan pergi sekitar jam tiga sore nanti.
    “Ke rumah gue  aja, Pi! Nanti alamatnya gue sms in”
    “Okeey deeh!! Gue tunggu sms nya ya…!”\
    Klik.
    Setelah mengirim sms ke Lupi, gue segera beranjak dari depan Mac gue. Perut gue lapar. Gue mau nyemil dulu di bawah. Sambil menunggu kedatangan Lupi.


    “Singapur??”
    Lupi mengangguk. “Kebetulan gue lagi ada project di sana. Nah…sembari gue kerja, elu kan bisa jalan. Lagian akomodasi gratis. Kan ada apartemen sepupu gue di sana. Kita bisa nginep di situ. Gimana?”
    Gue menimbang-nimbang. Kebetulan para piyik jadwal ulangan dan ujiannya masih jauh. Dan gue rasa Reza juga nggak akan keberatan. Humm…
    “Berapa hari, Pi?”
    “Gue sih resminya cuma tiga hari. Tapi kalau mau dibikin jadi empat atau lima hari sih….ga apa-apa juga.”
    Hmmm…..
    “Gimana?” desak Lupi.
    “Kapan berangkat?”
    Lupi mengambil Onyx nya. Memencet-mencet sesuatu. Lalu…
    “Bulan depan. Kita berangkat tanggal 20. Kebetulan gue tadi cek ada airlines yang lagi bagi-bagi tiket promo. Gimana?”
    Tiket promo? Hmmm…. Gue jadi tergoda.
    “Gue tanya Reza dulu ya. Diijinin apa nggak!”
    Lalu gue cepat-cepat menghubungi Reza.   
    Setelah itu..
    “Gue ikut, Pi… lu udah beli tiket belum?? Gue nebeng dulu dong…!!”
    Lupi terbahak. “Oke..oke….nanti gue emailin invoice nya ya…! Thanks, Fey…udah mau nemenin gue!”
    Gue tersenyum. Bulan depan…!! Finally gue bisa terbebas dari acara anniversary gue. Maafin gue ya, Za!!

Serpihan Masa Lalu (part 2)


1992

       Gue bergegas keluar dari kelas. Bel pulang sudah teriak-teriak sedari tadi. Buku-buku gue raup begitu saja lalu gue jejalkan ke dalam tas. Bolpen dan tempat pensil pun bernasib sama. Hari ini, selasa siang yang panas, dan gue belum dua minggu jadi anak SMA.
      Seperti biasa, gue harus menyusuri selasar di depan deretan kelas. Dimulai dari kelas gue, kelas IE, IF,....dan...
      Sosok itu ada di sana! Mendadak, entah kenapa, gue ngerasa ada suatu desiran halus di dalam dada. Gue yakin, muka gue udah mulai memerah. Apalagi, dia...Ya! Dia...!! Dia tengah menatap gue dalam-dalam dari kejauhan sambil tersenyum simpul.
      Aw,,,aw,,,aw,,,!! Senyumnya mak, batin gue. Dengan sok cuek, gue melewati dia.
      Gue salting.
      Muka gue memerah.
      Dia berdehem.
      Tersenyum
      Mengerling.
      Memanggil nama gue dengan lirih
      Tapi cukup jelas gue dengar...
      Gue menatap dia. Tersenyum. Grogi. Menyapa..
      "Hai!"
     "Boleh pinjam....buku sejarah? Kelas satu? Gue ada tugas ngerangkum bahan sejarah kelas satu.." ujarnya terburu.
     What the ?!$#*&!!
     Sounds cliche!!
    Anyway..
    Gue mengangguk. "Besok gue bawain. Tapi...cepet balikin, ya!" Ntah kenapa suara gue jadi terdengar sedikit manja. Sedikiiiiittttttt!!!!
    Dia tersenyum. "Thanks..!!"
    Gue segera berlalu.
    Gue jadi semakin deg-deg an.
    Gue..ya...GUE!!! Ntah kenapa jadi kepingin senyuuuummmm terus. Dan, jadi nggak sabar menunggu esok tiba.
     Dan gue nggak pernah menyangka.
    Everything starts from here...
   
****

     "Elu?? Minjemin buku sejarah ke dia?"
    Gue mengangguk. Tersipu. Sobat gue menatap gue dengan pandangan menyelidik.
    "Elu....jatuh cinta sama dia?"

    CUT!!
   
    Gue..?? Gue jatuh cinta??
    Mendadak gue teringat bait-bait lagunya Nikka Costa.

   
    Don't go out and play
    I just dream all day
    They don't know what's wrong with me
    And I'm too shy to say...


    "Hei!"
    Gue tergagap. "Apaan sih?" Gue sedikit sewot.
    Sobat gue tergelak. "Ya...ya..!! ELu memang lagi kena virus cinta yang mematikan kayaknya. Kalo nggak... elu nggak bakalan jadi o'on kayak gini!"
    Sialan!
    Gue dibilang o'on...
    "Katanya lo nggak suka sama dia?"
    Gue menatap sobat gue. "Memang gue pernah bilang gitu ke elo?"
    "Yaelah...!! Waktu penataran P4 kemarin lo bilang gitu ke gue. Baru seminggu juga masa udah lupa sih..?"
    "Lupa!" jawab gue sekenanya.
    "Ya udah. Terus, memang dia udah pe-de-ka-te ke elo?"
    Gue terdiam. Menatap sobat gue. Kali ini dengan tampang blo'on. "Pe-de-ka-te? Maksudnya, dia nelpon gue gitu?? Belum lah!!! Lagian, kan cuman gitu aja. Belum tentu juga dia ada apa-apa ke gue."
    "Pasti ada apa-apa! Kalo nggak ada apa-apa, ngapain tiap kali lewat di depan kelas kita, dia suka curi-curi lihat ke elu!"
    "Masa sih?" Ntah kenapa gue jadi senang denger perkataan sobat gue ini.
    "Memangnya elo gak pernah mergokin dia..?"
    Gue belum sempet jawab, ketika serombongan anak kelas II sos lewat di depan kelas gue. Rombongan cowok-cowok gondrong yang...anehnya...bikin beberapa cewek di kelas gue suka curi-curi pandang ke mereka. Termasuk gue. Dan tanpa gue sadari..mata gue mencari-cari sosok itu.
    "Paling belakang tuh!" kata sobat gue.
    Gue menunduk.
    Tapi...sambil ngelirik.
    Buseettt!!!

    Inikah yang dinamakan cinta??

   
****

       Sayur asem, ikan asin, dan sambal trasi. Gue langsung mengambil piring, mengambil nasi, menyendok sayur asem, mengambil beberapa potong ikan asin, dan....mencampur sambal trasi yang sudah tinggal seperempat cobek ke dalam piring.
      Gue lapeeeerrr banget. Setelah lari keliling lapangan sepak bola tiga kali di siang bolong (gue nggak pernah ngerti kenapa jadwal olahraga ditaruh paling belakan. Pas matahari bersinar dengan garangnya). Aaahh..sedap! Bisa-bisa gue nambah terus nih. Wah...jadi semakin bulet gue!!
      Gue barusan menyelesaikan ronde ke dua makan siang ini, ketika telpon di ruang keluarga berteriak-teriak minta diangkat.
      Hmmm....bikin selera makan gue menghilang saja.
      Sementara tak ada satu pun orang di rumah yang berinisiatif untuk mengangkat telpon itu. Seakan-akan mereka sudah bisa menebak bahwa dering telpon kali ini...ditujukan ke gue!
      Dengan ogah-ogahan gue terpaksa keluar dari arena meja makan, menuju ke telpon itu.

"Halo..!" ujar gue malas-malasan.
"Halo..!!" suara di seberang..jelas-jelas suara cowok dengan intonasi berat.
Gue terdiam. Berusaha menebak suara siapakah ini?
"Mau cari..."
"Bisa bicara dengan...ehm...Fey?"
Gue??
Si pria bersuara Bass ini mau cari gue??
"Iya...gue sendiri. Siapa ini?"
Lama tak ada jawaban.
"Halo..." kata gue.
"Weis...Gue Weis!"
GDUBRAK!!!
Gue terpaku.
Tak bisa berkata apa-apa.

WEIS...???
WEIS TELPON GUE??
TAU DARI MANA NOMOR TELPON GUE??

RALAT!!! SALAH!!
TAU DARI MANA NOMOR TELPON RUMAH NENEK GUE??

(Belakangan gue tahu kalo dia berhasil dapet nomor telpon rumah nenek gue dari...108!! Memang dari mana lagi??)

"Fey...! Kamu masih di sana?"
Gue tergagap. "O...ooo!! Iya..gue masih di sini. Ngg...ada perlu apa nih??"
Gue berusah se - cool mungkin.
Terdengar deheman dari seberang.
"Nggak...!!! Mau nanya aja, ntar sore ke sekolah kan? Bukannya hari ini jadwal latihan basket kamu?"

HEEEHHH!!! HAPAL YA JADWAL KEGIATAN GUE!!

"Ngg... mestinya sih. Tapi... kayaknya gue nggak berangkat."
"Kenapa?"
"Gue...gue...males aja!"
Dia tertawa.
"Kalo gue ke sekolah, lo masih males juga?"
"Ha...???"
"Basket, gih! Ntar gue tungguin. Pulang basket, kita makan roti bakar!"
Gue terdiam.

Is it..... a date??
SUMPAH... GUE NGGAK BERANI NANYA!!

"Ngg...pulang basket gue dijemput nyokap...balik ke rumah...!"
"O..." ada nada kecewa di seberang sana.
Gue jadi kasihan.
"Ngg...tapi gue bisa kok bilang ke nyokap biar gak usah dijemput."
"Memang boleh?"
Gue mengangguk. (Bloon banget nggak? Mau ngangguk seratus kali dia juga nggak bakalan tau).
"Pulangnya gue anterin deh...sampe ke rumah!" katanya.
Mendadak gue jadi sesak napas.
"Rumah gue jauh..!"
"Terus kenapa?"
"Bokap gue galak. Ntar disangkain kita pacaran lagi."
"Memang sampe segitunya?"
Gue menghela napas.
Gue kok jadi hiperbola banget sih.
Bokap gue kalo sore kan praktek dan baru balik diatas jam delapan.
Nyokap gue juga praktek dan baru balik diatas jam delapan juga.
Jadi...

"Lu anterin gue nyari bis aja."
"Nggak, ah! Gue anterin sampe rumah!"
"Weis...!"
"Fey...!"
"Nggak lucu, tau!" kata gue.
"Kenapa sih nggak mau dianterin sampe rumah?"
Gue terdiam sesaat.
"Gini aja deh....kali ini lu anterin gue nyari bis. Lain kali....baru lu anterin sampe rumah. Deal?"
"Lain kali??? Berarti... lu mau keluar lagi sama gue?"

BUSEEETTT!! Gue terjebak oleh kata-kata gue sendiri.

"Iya..iya...!"
"Deal kalo gitu."
"Ya udah. Udahan dulu ya...gue mau ngelanjutin makan siang dulu!"
"Oke..!! Sampe ntar sore ya...!"
"Sampe ntar sore," kata gue lirih.

KLIK!

Sumpah..!!! Gue jadi nggak laper lagi.




Bel pulang sudah dari tadi berdenting. Semua penduduk kelas sudah pulang. Sekolah mulai sepi. Tapi gue masih di sini. Mau tau alasannya??

Gue janjian pulang bareng sama sobat gue...tapi nyatanya beberapa menit yang lalu sobat gue bilang kalau dia diajak kencan sama gebetannya.

Fiuh...!!! Udah dibela-belain gue nggak mau dijemput, nyatanya sekarang - ketika matahari sedang terik-teriknya - gue harus berjalan kaki pulang. Sendiri!!
Alamak!!!
Malesnya!!!

Dan kini, dengan langkah gontai gue pun berjalan pulang.

Seperti biasa gue lewat lapangan sepak bola terus menuju ke parkiran belakang dan keluar lewat pintu gerbang belakang. ADi situ ada segerombolan anak (gue nggak berani curi-curi pandang karena itu GEROMBOLANNYA DIA!!) dan gue langsung mempercepat langkah. Sementara itu gue mendengar celotehan-celotehan iseng dari gerombolan itu.

Aarrgghhhh!!! Tau gitu gue nggak lewat situ deh. Gue sangkain semuanya udah pada pulang. Ternyata....

Tiga ratus meter dari sekolah. Ada seseorang, naik sepeda motor, mendekat.

"Hey...!"
Gue langsung menghentikan langkah, menoleh, dan terkejut. Ada DIA di situ.
"Ngg... hey juga!"
Sumpah gue grogi banget. Gue nggak nyangka aja dia ada di sini.
"Gue anterin, yuk!!!"
Gue tambah nggak bisa berkata-kata.
"AYooookk!!! Panas-panas gini apa enaknya jalan kaki? Sendirian pula!"
Gue menghela napas.
Kepengen sih...tapi...

GUE KAN PAKE ROK...
MANA ROK SPAN PULA...
BERARTI GUE HARUS BONCENG MIRING DONG!!!
!%$#?*^&^

GUE TAKUT JATUUUUUHHHHH!!!!

Gue menggeleng.
"Nggak ah! Lain kali aja!" gue berusaha mengelak dengan cara sehalus mungkin.
Dia berdecak kesal. Kentara banget dari raut mukanya.
"Kok lain kali terus sih?" katanya sedikit ketus
Gue jadi nggak enak ati.
"Ngg...lain kali aja, ya! Gue janji!" kata gue sambil senyum semanis mungkin.
"Bener nih?"
Gue mengangguk sambil nggak lupa (lagi-lagi) tersenyum manis.
"Janji PRAMUKA!" ujar gue.
Dia menghela napas. Gue jadi kasian. Sebenernya sih....gue mau aja dianterin dia pulang. (Cieee!!!) Tapi....bonceng motor pake rok? NO WAY!!!
 "Hey... kok malah ngelamun sih?? Udah..sini! Gue anterin sekarang aja!"
Gue menggeleng. "Lain kali aja, deh! Ya..ya...ya...ya...!!! Pliiizzzz!!" Gue langsung memasang tampang sememelas mungkin.
Dia menghela napas.
"Ya udah...cepetan sana pulang. Setengah jam lagi gue telpon, ya!! Langsung pulang loh! Jangan ngelayap ke mana-mana...!!!"
Gue mengangguk. "Iya..iya..!! Duluan ya!"
Gue pulang. Meninggalkan dia.

Tapi..kenapa gue ngerasa menyesal, ya???


TLILILILITT…..TLILILIIIITTT!!!
Gue tergagap. Lamunan gue buyar. Serpihan masa lalu gue menghilang.
Gue meraih hape gue yang berteriak-teriak minta diangkat. Dari Reza lagi.
“Kenapa, Za?”
Reza mengabarkan kalau mungkin dia akan pulang sedikit terlambat. Sembari bertanya apakah gue menitip sesuatu. Gue menolak dan berusaha segera mengakhiri pembicaraan.
Setelah gue menutup telpon, gue beranjak dari kasur menuju ke luar kamar. Gue laper. Perut gue rasanya perih. Gue melihat ke arah jam dinding kamar. Udah hampir jam sepuluh. 
    Di meja makan masih ada sayur lodeh dan ikan banding yang sedari tadi belum tersentuh. Gue mengambil nasi dari magic jar, sayur lodeh, dan ikan bandeng, lalu semuanya itu gue masukkin ke dalam microwave. Hehe….meskipun gue tau bahwa memanaskan makanan memakai microwave bukanlah cara yang sehat (informasi ini gue dapetin dari salah satu blog di multiply), tapi saat ini…kepraktisan adalah hal yang gue butuhin.
    Sampai gue selesai makan, laki gue belum juga pulang.
    Sementara mata gue sudah semakin susah untuk diajak kompromi agar terus melek.
    Dan tidak sampai semenit setelah gue mendaratkan tubuh gue ke kasur empuk ini, gue sudah terbang ke alam mimpi…









Serpihan Masa Lalu (part 1)

2008


    Seperti biasa pagi-pagi seperti ini adalah saat gue menyesap kopi, menikmati setangkup roti isi, mengupdate berita-berita terbaru lewat surat kabar tentunya….sambil mensyukuri apa-apa yang telah gue capai dan dapat selama ini.
    Tapi nyatanya tidak!! Maksudnya, gue memang mensyukuri apa-apa yang telah gue dapat dan raih selama ini tetapi hanya dalam lingkup finansial, karir, anak-anak yang lucu dan pintar…. YA! Cuma itu.
    Tapi tidak dalam perkawinan yang nyaris berumur sepuluh tahun ini.
    Bulan depan tepatnya, gue sudah sepuluh tahun menikah.
    Tapi…gue ngerasa segalanya hambar tak berasa. Dan terkadang….putus asa dan….ingin sendiri.
    Bukan….!!! Bukan karena dia berselingkuh. Bukan juga karena dia tidak sayang atau tidak cinta sama gue. Suami gue itu, sayang dan cinta banget sama gue.
    Mungkin…..gue yang tidak terlalu sayang atau tidak terlalu cinta sama dia.
    Tapi sampai sepuluh tahun menikah??
    “Pagi Sweety
..!!” suara suami gue membuyarkan lamunan gue.
    “Pagi…” gue melipat surat kabar yang baru gue baca dan langsung menyerahkannya ke tangan suami gue. “Bakal ada pemadaman listrik lagi, nih! Hari ini rumah kita kena kayaknya.”
    “Oya…!! Memang kebangetan bener PLN! Kalo kita bayar telat semenit aja…eh…listrik di putus. Giliran kita nggak pernah telat bayar…masih juga byar pet seenaknya. Bener-bener nggak profesional!!”
    Gue tertawa. “Jangan ngomel ke gue dong! Ke Dirut PLN aja sono!!!”
    “Oya…ada undangan buat kamu.”
    Gue mengambil undangan yang diulurkannya itu.
    Gue mengamati undangan berwarna merah marun itu. Siapa yang mau nikah, ya?? Dan lagi….kenapa ditujukan pada gue?? Biasanya, selalu nama suami gue.
    “Dari siapa sih, Za?”
    Suami gue menggeleng. “Tadi pagi Sumi yang bawa terus dikasih ke aku.”
    Gue membuka undangan itu. Perlahan. Dan mulai membaca isinya.

    ALAMAAAAKKK!!!
  
    Gue nyaris pingsan membaca nama pengantin prianya. 

    WISESA HARYADI !!!

    Wisesa? Weis? Weis gue???
   Wajah gue memucat seketika. Tubuh gue gemetar. Shock! Tak menyangka! Aaarrghhh!!!
Suami gue yang asyik melahap nasi goreng jadi menghentikan kegiatannya. Menatap gue heran. Khawatir.
   “Kenapa, Fey? Siapa yang kawin?” desaknya.
    Untuk sesaat gue masih termangu.
   “Fey…!” panggilnya. Suara lembut Reza akhirnya berhasil membawa gue kembali ke alam nyata.
    “Uuh… ngg… kenapa, Za?”
    “Siapa yang kawin?”
   Gue berdehem. Menarik napas perlahan, menghembuskannya perlahan.
   “Temen SMA gue,” kata gue, berusaha setenang mungkin.   
   Suami gue menghela napas. Lega. “Oo….temen SMA. Kirain siapa..”
   Sarapan pagi jadi tak menarik lagi. Gue segera beranjak, hendak meninggalkan arena meja makan.
   “Ke outlet?” tanya suami gue.
   Gue mengangguk nggak jelas. “Ntar siangan, kali! Mau tiduran dulu. Masih rada ngantuk nih. Semalem abis online sampe jam empat subuh.”
Suami gue tertawa. “Ya..ya… sampe aku ketiduran karena dicuekin. Ya udah. Entar kalo mau ke outlet bilang-bilang ya. Sekalian mau nitip sesuatu.”
    Gue cuma mengangguk, terus pergi menuju kamar.
    Entah mengapa, tapi gue merasa. Ada sesuatu yang hilang dari dalam diri gue….
*****

   Gue baru saja balik dari menengok, mengecek, dan mericek outlet-outlet gue yang jumlahnya ada empat biji. Cape banget. Mana hari ini panasnya ampuuuuuunnnnn….!!! Maka, nggak salah dong kalau sekarang, gue membelokkan mobil gue ke salah satu kafe imut tapinya….cozy banget.
    Setelah gue me re-charge diri gue dengan segelas avocado float plus onion ring, gue jadi ngerasa fresh lagi. Hmm….!!!

             Tonight….I celebrate my love for you
            And hope…that deep inside you feel it too…


    Gue termangu. Lagu yang lagi mengalun di kafe ini sungguh mengingatkan gue akan luka pagi ini.
Ya…ya…ya! My teenage sweetheart aka my first love akan segera menikah. Dan…meskipun cerita cinta gue dan dia sudah 15 tahun berlalu….tapi entah kenapa gue tetap nggak rela kalau pada akhirnya dia akan….
    “FEVITA???”
    Buseet….siapa nih yang manggil gue? Gue langsung menoleh ke belakang..
    “LUPI???” Gue kaget banget. Lupi adalah sobat kental gue waktu jaman SMA dulu.
    Lupi langsung menghampiri gue dan duduk di meja gue. “Bukannya dulu lo tinggal di Surabaya??”
Gue tertawa. “Yaaah….ketinggalan berita lo! Gue ada di sini lagi udah sejak tiga setengah tahun yang lalu. Kemana aja lo?”
Lupi meringis. “Gue baru tiga bulan ini balik dari Holland, saiii!! Jadi belum sempet nge-update berita terbaru.”
“Dari Holland?? Wuiihh..!! Keren amat?? Ngapain lo disana?”
Lupi berdehem. “Ngg….tadinya sih mau ambil S3 gitu. Tapinya terus….waktu disana, gue mendadak jadi males nerusin. Terus ya  kerja aja. Cuman…lama-lama gue males aja . Ya udah….gue balik ke sini lagi.”
“Gila…lu!! Kalo gue sih…mendingan lumutan di sana deh..! Holland gitu loh! Negara impian gue!!”
“Ya udah…lu aja yang ke sono! Gue mah…mending di sini.”
    Gue mengaduk-aduk avocado float gue yang tinggal sepertiga gelas. “Lo nggak mesen sesuatu?” tanya gue sambil kasih kode ke Lupi kalau para waitress sedang menatap  Lupi dengan pandangan yang susah didefinisikan.
Buru-buru Lupi memesan sandwich tuna dan ice mocha .
    “Jadi….cerita tentang lu dong, Fey!”
    Gue berdehem. “Cerita apa?”
    “Ya…. apa aja! Karir lo, keluarga lo, punya selingkuhan ato nggak…”
    “Gue mandi duit sekarang!”
    Lupi melongo. “Beneran?”
    Gue tertawa. “Becanda….Pi….becanda! Karir gue…oke! Gue berhasil punya empat butik yang nggak pernah sepi, terus internet marketing gue juga menghasilkan. Gue masih sama Reza, anak gue dua orang cowok semua, terus….si Weis mau nikah!”
    UHUHKKKK!! UHUUUKKK!!! Lupi tersedak.
    Gue menghela napas.
    “Maksud lo…..Weis??? Weis lo? Weis yang bikin lo…”
    “PSSSSTTT!!!” gue membungkam mulut Lupi. Aduuuhh…!!! Jangan sampai deh, si Lupi membocorkan aib negara!
    Lupi menatap gue protes.
    Untung sandwich tuna Lupi segera datang. Jadi….selamatlah gue dari terkaman Lupi.
    “So..dari mana  lo tahu kalo si ‘ehem’ lo itu mau nikah?”
    “Gue dikirimin undangannya.”
    “Lo mau dateng?”
    Gue terdiam. Lalu menggeleng. “Nggak tau, Pi! Waktu nikahan gue dia juga nggak dateng.”
    “Kan dia lagi patah hati…..!!”
    Gue menatap Lupi. “Maksud elo? Dia habis putus cinta? Apa hubungannya dia putus cinta dan pernikahan gue?”
    Lupi berdecak kesal. “O’on banget sih lo! Dia patah hati karena elo kawin sama Reza! Ngerti nggak?”
    Gue termenung mendengar perkataan Lupi.
    Weis patah hati karena gue kawin?? Bukannya dulu….
    Hape gue berbunyi. Dari suami gue. Malas-malasan gue mengangkat.
    “Kenapa, Za?”
    Reza memberitahukan kalau malam ini dia dan temen-temennya mau jalan.
    Gue mengiyakan. Lalu setelah basa-basi singkat, gue menutup telpon.
    “Gue mau balik, Pi! Pengen leyeh-leyeh nih…!! Lo gue tinggal nggak apa-apa, kan?”
    Lupi menggeleng. “Gue juga udah slesei, nih!” Lalu Lupi segera memberi kode pada si waitress untuk segera mengambilkan bill kami berdua.
    Setelah membayar, kami berdua segera pergi dari kafe ini.
    Sebelum berpisah, kami bertukar nomor hape.
    Beberapa saat kemudian, gue sudah melaju pulang ke rumah.

****

    Gue membaringkan tubuh gue ke atas spring bed empuk ini. Fiiuuhhh….capeknya!!! Padahal cuman gitu aja…tapi serasa kayak habis lari keliling lapangan sepak bola berkali-kali.
    Seharusnya gue mandi..tapi gue males aja melakukan aktivitas lain selain berbaring dan leyeh-leyeh di atas kasur ini. Sebodo amat! Bau…bau…deh! Lagian, mumpung Reza sedang hang out dengan teman-temannya, kedua piyik sedang sleepover di rumah eyangnya….kapan lagi bisa bersantai dan memiliki waktu sepenuhnya hanya untuk diri gue sendiri ???
    Nggak sengaja mata gue tertumbuk pada undangan merah marun itu yang terletak di atas meja.
    Gue menghela napas.
    Foolish, bisik gue dalam hati.
    Kenapa juga gue harus ngerasa sebel dan nggak rela…padahal kenyataannya gue dan dia udah nggak ketemuan lagi sejak…..sejak….
    Gue lupa!
    Tapi ada kali ya….sejak sepuluh tahun yang lalu.
    Dan tanpa sadar….gue sedang memunguti serpihan-serpihan masa lalu…